Kuliner

Dosen Undip Rayakan Lebaran di Jerman: Pengalaman Tanpa Lontong dan Opor

Dosen Undip Rayakan Lebaran di Jerman Pengalaman Tanpa Lontong dan Opor
Dosen Undip Rayakan Lebaran di Jerman Pengalaman Tanpa Lontong dan Opor

Berita Kuliner – Lebaran atau Idul Fitri merupakan momen yang dinanti-nanti umat Muslim di seluruh dunia. Di Indonesia, makanan khas seperti lontong dan opor menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan ini. Namun, bagaimana rasanya merayakan Lebaran di negara lain, di mana tradisi tersebut mungkin tidak ada? Artikel ini mengisahkan pengalaman Anggun Puspitarini Siswanto, ST, PhD, seorang dosen dari Universitas Diponegoro (Undip), yang merayakan Lebaran di Jerman tanpa hidangan khas tersebut.

Dosen Undip dan Program Fellowship di Jerman

Anggun Puspitarini adalah dosen Program Studi Teknologi Rekayasa Kimia Industri di Sekolah Vokasi Undip. Ia diberi kesempatan untuk melaksanakan fellowship di RWTH Aachen, salah satu universitas terkemuka di Jerman. Program fellowship ini merupakan bagian dari kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jerman untuk meningkatkan pengelolaan kerja sama pendidikan. Pada kesempatan ini, Anggun mendapatkan pendanaan dari Theodore von Kármán Fellowship yang berlangsung dari 28 Maret hingga 12 April 2025.

Mendarat di Jerman: Hari Pertama yang Berkesan

Setelah tiba di Jerman, Anggun mendarat di Aachen. Hanya dalam waktu 24 jam, ia harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru sambil merasakan nuansa Lebaran. Meskipun jauh dari rumah, ia merasa beruntung dapat menjalani ibadah salat Idul Fitri di Bendplatz, sebuah lapangan dekat taman kota Aachen, pada 30 Maret 2025. Ini adalah pengalaman pertama baginya merayakan Lebaran di Eropa.

Atmosfer Lebaran di Aachen

Gerimis yang menghiasi pagi saat salat Idul Fitri menambah nuansa haru. Meskipun tidak ada lontong dan opor, Anggun menemukan kebahagiaan dalam berkumpul dengan komunitas Muslim di Aachen. Ia menyaksikan bagaimana masyarakat setempat menyambut perayaan ini dengan hangat, meskipun hidangan khas Indonesia tidak tersedia.

Selama salat, Anggun merasakan kedekatan spiritual yang mendalam. Momen ini menjadi pengingat bahwa esensi Lebaran bukan hanya terletak pada makanan, tetapi juga pada kebersamaan, rasa syukur, dan saling memberikan dukungan.

Kegiatan Pasca Lebaran

Setelah menjalani ibadah salat, Anggun kembali ke rutinitasnya di RWTH Aachen. Sementara rekan-rekannya di Indonesia masih merayakan libur Lebaran, ia sudah mulai menjalani kegiatan akademik seperti biasa. Ini menunjukkan betapa pentingnya dedikasi seorang akademisi dalam menjalankan tugasnya, meskipun dalam suasana merayakan.

Kerja Sama Pendidikan Indonesia-Jerman

Program fellowship yang diikuti Anggun merupakan bagian dari Circular Economy Scholarship Programme (CESP). Program ini bertujuan untuk memberikan beasiswa kepada dosen muda Indonesia di tiga perguruan tinggi negeri berstatus badan hukum (PTN-BH), yaitu ITB, Undip, dan UGM. Kerja sama ini didasarkan pada Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia dengan RWTH Aachen.

Cerita Inspiratif bagi Dosen Lain

Pengalaman Anggun di Jerman menjadi inspirasi bagi dosen-dosen lainnya untuk mencari kesempatan serupa. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak mengenal batasan geografis. Dengan adanya program seperti ini, para dosen dapat menambah wawasan serta pengalaman internasional yang berharga.

Penutup

Merayakan Lebaran di luar negeri tentu memberikan tantangan tersendiri, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperluas perspektif. Anggun Puspitarini Siswanto adalah contoh nyata bagaimana seorang dosen dapat menjalani tugas akademik sekaligus merayakan tradisi dengan cara yang berbeda. Meskipun tanpa lontong dan opor, ia menemukan kebahagiaan dan makna dalam momen spesial ini.

Cerita dosen Undip ini menekankan bahwa perayaan Lebaran tidak hanya soal makanan, tetapi juga tentang semangat kebersamaan dan solidaritas. Semoga pengalaman Anggun dapat menginspirasi banyak orang untuk merayakan Lebaran dengan cara yang unik, di mana pun mereka berada.

Exit mobile version